Bantah Atur Tempat Pembelian Material

MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA H Abasti

LOTIM – Tahun ini, belasan miliar digelontorkan pemerintah untuk pembangunan SD, berupa Ruang Kelas Baru (RKB), rehab sedang atau berat RKB, pembangunan ruang pusat belajar inklusif beserta perabotnya, dan pembangunan jamban bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler. Sedangkan pembangunan rumah dinas beserta perabotnya, bersumber dari DAK afirmasi. Adanya dugaan pengaturan tempat pembelian material proyek swakelola itu, disangkal Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur (Lotim), H Abasti.

“Sangkaan seperti itu tidak benar, dan saya rasa permainan oknum saja. Karena maklum, setiap ada pembangunan seperti ini, pasti ada merasa tidak senang,” kata Abasti, pada awak media di kantornya, kemarin.

BACA JUGA  Lebih 7.000 Surat Suara Rusak

Namun ia membenarkan sejumlah penjual datang menawarkan barang-barangnya, serta meminta persetujuan agar dibeli panitia pembangunan yang mendapat bantuan DAK dan DAK afirmasi itu. Menurutnya, kedatangan mereka menawarkan barangnya adalah sah-sah saja, karena tidak mungkin menutup pintu dan mengatakan sudah ada tempat pembelian. Tidak diarahkan, dan dipersilakan membeli dimana saja, asal barang dibeli sesuai spek yang ada dalam Petunjuk Teknis (Juknis).

Tinggal kembali pada panitia atau pihak sekolah. Termasuk soal penggunaan baja ringan, agar pihak sekolah mengetahui mana jenis baja ringan bagus dan mana tidak. Sehingga, bangunan tidak mudah rusak. “Yang namanya datang menawarkan sah-sah saja. Tapi untuk mengarahkan agar membeli material pada pihak tertentu tidak. Pekerjaan ini swakelola, jadi boleh sekolah mau membeli dimana pun, asalkan tidak keluar dari spek yang ada dalam RAB dan gambar,” tegasnya.

BACA JUGA  Progres Penanganan Kasus Pungli Oknum Mantan Korkab PKH Lotim

Saat ditanya progres semua program fisik tersebut, diklaimnya sudah mencapai rata-rata menuju 70 persen. Realisasi dana tahap dua juga sudah dilakukan. Tinggal saat ini, menunggu realisasi tahap tiga yang masih menunggu proses. “Bila sudah rampung 100 persen, baru dibayar termin tiga,” tandasnya.

Ia mengungkapakan, proses laporan dilakukan secara kolektif. Demikian juga realisasi pembayaran DAK tersebut, dilakukan secara kolektif. Pekerjaan tidak bisa difinishkan sesuai jadwal 22 Oktober lalu, karena anggarannya juga terlambat. Sesungguhnya bukan pekerjaan yang mengalami terlambat, melainkan dananya yang terlambat.

“Termin tiga uang sudah ada, cuma baru bisa dikeluarkan ketika pekerjaan sudah 100 persen,” pungkasnya. (fa’i/r3)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Kisah Sudirman, yang Video Sakitnya Viral di Medsos

Read Next

Jalur Suela dan Sembalun Rawan Pohon Tumbang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular