Eksistensi Karang Taruna Jaya Sakti Kelurahan Monjok Timur

IST RADAR MANDALIKA KOMPAK: Anggota KTJS Monjok Timur, Kecamatan Selaparang melakukan kegiatan sosial di Mataram beberapa waktu lalu.

Masuk Nominasi 15 Besar Nasional, Fokus Tangani Sosial, Jauh Dari Politik

Karang Taruna Jaya Sakti (KTJS) Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram mewakili NTB tingkat nasional 2019 dalam ajang karang taruna teladan tingkat nasional. Bahkan saat ini, KTJS sudah masuk nominasi 15 besar. Tinggal menunggu pengumuman lima besar.

ABDUL RAZAK, MATARAM

KTJS Monjok Timur yang berdiri sejak 2017 lalu. Sedari awal KTJS tak pernah menyangka bakal masuk nominasi 15 besar dalam ajang karang taruna  teladan tingkat nasional 2019. Namun takdir Tuhan berkata lain. Dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada, KTJS mampu bersaing dengan karang taruna lainnya dari 34 provinsi se-Indonesia.

Langkah KTJS hingga berada di tangga 15 besar tingkat nasional tidaklah mudah. Tahap demi tahap harus dilalui. Mulai dari seleksi tingkat Kota Mataram Februari lalu, kemudian April, berlanjut pada seleksi tingkat Provinsi NTB.

“Kita juara di provinsi. Naik kita di tingkat nasional, terus berangkat ke Jakarta Agustus kemarin. Kita presentase di sana dari 34 provinsi, hanya 32 provinsi yang hadir,” ujar Ketua KTJS Monjok Timur, Lalu Agusfian Dwiyana Kurniawan, kepada Radar Mandalika, kemarin.

Setelah berhasil masuk nominasi 15 besar pascabersaing dengan 32 provinsi, hari yang ditungu-tunggu datang juga. Tim penilai dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI terjun langsung melakukan penilaian lanjutan di Mataram, Sabtu (23/11) lalu. Guna membuktikan hasil presentase KTJS di Jakarta Agustus lalu.

“Setelah 15 besar akan dijaring lima besar lagi. Nanti pemberian pemyematan hadiahnya di Kalimantan Selatan langsung sama Pak Presiden,” tutur Kurniawan.

BACA JUGA  Mengenal Elaine si Jago Bahasa Inggris

Masuk 15 besar saja bagi Kurniawan cukup membanggakan. Sebab, NTB sudah lama tidak meraih juara. Terakhir, tercatat di tahun 1990. Saat ini, KTJS tinggal menunggu pengumuman lima besar. Rencananya, pengumuman dilaksakan bersamaan dengan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), 20 Desember mendatang.

“Kalau kami tidak menargetkan untuk masuk nominasi lima besar. Kita ingin menghidupkan karang taruna. Ya di Kota Mataram dulu,” janji dia.

Dia menceritakan, antausias karang taruna di Ibu Kota Provinsi NTB sendiri terbilang redup. Setiap ada pelatihan yang yang diadakan Pemkot Mataram, dari 50 kelurahan yang ada, setidaknya 20 karang taruna yang hadir. Dari jumlah itu, jalinan komunikasi lewat media yang ada rata-rata enam sampai tujuh karang taruna yang masih aktif.

“Karena memang pengetahuan tentang karang taruna itu sendiri saya bilang kurang di Mataram. Memang sekitar tahun 90-an pernah dapat, tapi setelah itu mati karang tarunanya,” beber dia.

Kurniawan menilai bahwa redupnya antusias karang taruna selalu disandingkan dengan organisasi atau perkumpulan politik. Yang bisa mengumpulkan masa dan sebagainya. Padahal tidak mesti disamakan seperti itu. Sangat jauh berbeda perbedaannya dengan organisasi politik.

“Sekretaris Jenderal Karang Taruna Nasional menegaskan kalau karang taruna berbeda memang dengan organisasi pemuda. Karang taruna itu adalah organisasi sosial. Beda misalnya dengan KNPI atau remaja masjid atau peramuka,” jelas dia.

KTJS Monjok Timur bisa eksis sampai sekarang hingga bisa masuk nominasi 15 besar di ajang karang taruna teladan tingkat nasional karena keutuhan dan kekompakan antar anggota yang saat ini mencapai 50 anggota aktif. Selama ini sudah banyak melakukan aksi nyata. Bukan hanya sekadar omongan belaka. Terutama kegiatan-kegiatan berbau sosial dan lain sebagainya.

BACA JUGA  Berkunjung ke Kampoeng Ikan Desa Kluncing

Kegiatan atau program tercover dalam enam bidang, yaitu pengembangan lingkungan, kerohanian, olahraga, bina usaha, Sensosbud dan emergency responce.

Pada tahun 2018-2019, KTJS pula pernah membangun posko kebencanaan dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada Peduli di Mataram, Lombok Utara dan Lombok Timur, peduli Sungai Jangkuk, memberangkatkan tiga kloter evakuasi jenazah dan trauma healing ke Palu dan Donggala, dan banyak lagi program lainnya.

“Kita bisa hidup selama ini kebanyakan dari relasi. Sejauh ini kita bisa surivive dari swakelola anggota sendiri. Bisa dari uang iuran kemudian kita punya bina usaha yang diputar uangnya untuk anggota dan organisasi juga,” tutur Kurniawan.

Dia menyebutkan, kalau dukungan dari pemerintah setempat selama KTJS bergerak masih minim sentuan dan dukungan. Pemerintah baik Pemkot Mataram maupun Provinsi NTB baru muncul setelah KTJS masuk nominasi 15 besar tingkat nasional.

Kurniawan mengatakan, dukungan itupun terlihat menjelang agenda penyambutan tim penilai dari Kemensos RI Sabtu lalu.

“Mungkin yang sampai ke nasional itu sampai dengan Dinsos Kota Mataram saja yang dekat sama kita. Untuk yang ke atasnya saya rasakan masih kurang memang dukungannya,” sebut dia.

Kurniawan berharap ke depan jalinan komunikasi dengan pemerintah setempat tetap intens. Baik dari Pemerintah Kelurahan dan Kecamatan. Harusnya ada sinergitas program bersama pemerintah. Tidak hanya muncul dan antusias ketika karang taruna menoreh prestasi di berbagai bidang.

“Jujur, kalau ketemu Pak Wali sendiri baru satu kali. Itu kebetulan saat satu hari sebelum acara penyambutan tim penilai. Kita banyak ngobrol dengan Pak Wali kemudian sekadar memperkenalkan diri di depan Pak Wali,” pungkasnya. (cr-zak)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

PDIP-PKS Bulat Usung Djohan Sjamsu

Read Next

Eratkan Kebersamaan Antar Pekerja Sosial, Dinsos Lobar Gelar Jambore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular