GIZI BURUK DI NTB MENINGKAT

ilustrasi

MATARAM – Kasus gizi buruk masih banyak di NTB. Kondisi ini tentu menjadi potret buruk pemerintahan sekarang. “Masih jadi masalah,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhadi Eka Dewi di Mataram, kemarin. 

Angka gizi buruk di NTB pun tidak main- main. Jika dilihat dari temukan kasus ada  213 kasus gizi buruk yang ditemukan dan ditangani oleh pemerintah sampai saat ini. Dari jumlah itu, gizi buruk tertinggi Lombok Barat dengan 70 kasus, Lotim peringkat kedua 52 kasus dan Loteng ketiga dengan 28 kasus.

Selanjutnya di Bima 18 kasus, KLU 16 kasus, Sumbawa, 11 kasus, Kota Mataram 10, Dompu 6 kota Bima tiga kasus. Justru yang tidak ada gizi buruk di Sumbawa Barat. 

Dengan kondisi ini, Eka justru memojokkan para orang tua dimana dia menjelaskan gizi buruk masih akan tetap terjadi terutama bila pola asuh yang dilaksanakan oleh orang tua tidak sesuai dengan usia anak. Anak yang lahir dengan berat badan normal, jika pola asuh dan pemberian makan tidak sesuai menyebabkan terjadinya malnutrisi. 

BACA JUGA  Cara Komunitas Kelokop Ilmu Peduli Sesama di Lombok Barat

“Masalah gizi ini masalah yang cukup kompleks,” akui Eka

Eka menjelaskan, penanganannya harus dimulai dari hulu sampai hilir, dimulai dari pendidikan orange tua, sosial ekonomi dan budaya. Menurut Eka tisak bisa menyalahkan satu pihak saja (pemerintah). Menurutnya yang penting bagaimana kie pada keluarga dan upaya penyembuhan anak bisa optimal dilaksanakan.

“Makanya dilaksanakan konvergensi  penanganan gizi/stunting yang melibatkan 13 kementerian dan lembaga,” katanya. 

Sebelumnya, masalah kesehatan di NTB yaitu tingginya angka kematian ibu dan bayi. Setiap tahu mengalami peningka-

tan. Data yang diperlihatkan Dikes NTB beberapa waktu yang lalu tahun ini saja, data kematian ibu mencapai 78 kasus lebih tinggi dari tahun 2018 yaitu 72 kasus. Dari sepuluh kabupaten kota di NTB, yang paling parah yakni, di Lombok Tengah dengan 24 kasus dari tahun sebelumnya hanya 20 kasus. 

BACA JUGA  100 Persen Mahasiswa Poltekpar Bisa Bekerja

Lalu selanjutnya tertinggi kedua Lombok Timur dengan 19 kasus, lanjut Lombok Barat tujuh kasus, Kota Mataram enam kasus, Bima lima kasus Lombok Utara, Sumbawa dan Dompu masing-masing empat kasus, Kota Bima tiga kasus dan Sumbawa Barat dua kasus. Untuk tahun 2018 dengan 72 kasus yang tertinggi Lotim dengan 30 kasus, Loteng 20 kasus 

sementara daerah yang lain berada di bawah 10 kasus saja. Sementara untuk kematian bayi sendiri tahun ini berjumlah 688, meningkat dari tahun lalu hanya 658 

kasus. Namun yang paling tinggi Lotim dengan 261 kasus, Loteng menjadi daerah kedua dengan 153 kasus, dilanjutkan dengan Bima 66 kasus, KLU di nomor urut empat yaitu 64 kasus, dilanjutkan dengan Sumbawa 46 kasus, Kota Mataram 31 kasus, 21 kasus di Kota Bima dan 20 kasus di Lombok Barat. Dari persoalan ini, Lotim masih selalu tinggi jika dilihat dari data tahun 2018 dimana berjumlah 194 kasus 

sementara Loteng kedua 169 kasus.

“Ini data sampai September tahun 

ini. Kamatian ibu 78 dan bayi 688. 

Daerah yang terbesar sesuai jumlah 

penduduk. Lotim terbanyak untuk 

kematian bayi,” beber Eka sebelumnya. (jho/r1)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

“Geli”, Dirut Poltekpar Buka Suara

Read Next

Sisi Lain Peringatan Hari Pahlawan ke-74 di Lombok Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular