Jumlah Janda di Loteng Meroket

H Didi Nurwahyudi ( JAYADI/RADAR MANDALIKA )

“Kasus perceraian yang kami tangani lebih banyak cerai gugat (pemohon istri) dibandingkan dengan cerai talak (pemohon suami),”

Istri Dominan Gugat Suami

PRAYA-Jumlah janda di Lombok Tengah meningkat (meroket, Red). Pihak Pengadilan Agama (PA) kelas I B Praya Lombok Tengah mencatat  selama setahun sebanyak 2.500 perkara perceraian yang ditangani.   Sedangkan perkara yang putus sebanyak 2.000 kasus. Bahkan PA mengklaim, bahwa kasus penceraian ini terus meningkat tajam tahun ke tahunnya.

Kepala PA Kelas I B Praya Loteng, H Didi Nurwahyudi menegaskan, meningkatknya kasus perceraian itu dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan perselingkuhan. Selain itu, kasus perceraian yang terjadi juga  banyak disebabkan karena faktor perselisihan yang berbuntut pada pertengkaran secara terus-menerus. Disusul kasus cerai karena salah satu pihak meninggalkan pasangannya keluar kota, dan terakhir karena salah satu pasangan terjerat kasus narkoba.

BACA JUGA  Warga Bongkar ‘Kebusukan’ BUMDes Tampak Siring

Mayoritas pasangan yang bercerai usia 31 hingga 50 tahun. Disusul usia 26-30 tahun, kemudian usia 21-25, dan paling sedikit pasangan berusia 17-20 tahun.  Bahkan dalam kasus penceraian itu, yang sering kali menggugat adalah para istri.  “Kasus perceraian yang kami tangani lebih banyak cerai gugat (permohonan istri) dibandingkan dengan cerai talak (permohonan suami),” terangnya kepada media, kemarin.

Meski demikian, pihaknya terus berupaya untuk  meminimalisasi angka perceraian, sebelum masuk ke PA, dilakukan upaya mediasi kepada kedua belah pihak selama satu bulan. Tujuannya, untuk memfasilitasi pasangan suami istri agar bisa rujuk dan tidak bercerai. “ Tingkat keberhasilan pasangan yang rujuk setelah mediasi hanya beberapa persen saja,” ungkapnya.

Ia menerangkan, dengan jumlah kasus penceraian itu, dampaknya akan membuat semakin tingginya jumlah perempuan yang berstatus janda. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya cerai gugat yang hingga tahun ini sudah mencapai ribuan perkara. Dari jumlah kasus yang masuk ke PA, mayoritas pasangan enggan dimediasi.

BACA JUGA  Oknum Pejabat Kecamatan ‘Hadang’ Marbot

“Angka janda bisa dilihat dari banyaknya angka kasus cerai gugat, belum lagi ditambah dari angka cerai talak. Sehingga kami berharap agar semua pihak terlibat dalam mengatasi kasus penceraian itu,” tuturnya.

Dia mengaku, pihaknya sangat prihatin dengan banyak kasus penceraian tersebut, sehingga pihaknya menilai sangat perlu adanya aturan pemerintah yang dirumuskan dalam definisi ketahanan keluarga, yaitu kemampuan keluarga dalam mengelola anggota keluarga yang dimiliki. 

Ditambahkan, pihaknya berharap ke depanya angka kasus penceraian akan lebih menurun lagi.  Sebab, jika kasus pencereain ini terus meningkat tentu jumlah janda akan semakin banyak. Sehingga, memang perlu menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah daerah. 

“Kita harus memikir solusi untuk permasalahan ini,” katanya. (jay/r1)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

KPU Sedang Kerja Ekstra

Read Next

Gunung Malang Bakal Dipercantik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular