KPU Siapkan Penggantinya dari Bali

Ketua KPU Arief Budiman menuturkan, pihaknya telah menerima surat penguduran diri dari keluarga Wahyu Setiawan bahkan yang bersangkutan sudah mengundurkan diri. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

JAKARTA-Setelah jadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Wahyu Setiawan resmi mengundurkan diri sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pergantianya merujuk pada UU Nomor 7/2017 tentang Pemilihan Umum.

“Selebihnya kita serahkan sepenuhnya kepada Bapak Presiden Jokowi,” ujar Ketua KPU Arief Budiman dalam konfrensi pers di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Senin (10/1).

Menurut Arief, pengganti Wahyu Setiawan adalah I Dewa Kader Wiarsa Raka Sandi yang saat ini menjabat sebagai Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Bali.

“Untuk penganti Pak Wahyu itu nanti Pak I Dwa Kade Wiarsa Raka Sandi, karen dia berada saat pemilihan komisioner KPU ada diurutan delapan (saat DPR melakukan voting pemilihan anggota KPU 2017 silam),” katanya.

Arief juga menuturkan, pihaknya telah menerima surat penguduran diri dari keluarga Wahyu Setiawan bahkan yang bersangkutan sudah mengundurkan diri.

“Pak Wahyu Setiawan sudah membuat surat pengajuan pengunduran diri yang ditujukan kepada presiden dan diberitahukan kepada KPU,” ujar Arief.

BACA JUGA  Impor Pertamina Melejit Hingga Rp 977,1 Miliar

Menurutnya, sesegera mungkin surat yang diterima KPU terhadap pengunduran diri Wahyu Setiawan akan segara dikirimkan ke Presiden Jokowi.

“Jadi segera mungkin, malam ini akan kita kirimkan ke Presiden Jokowi,” katanya.

Berikut ini isi surat pengunduran diri yang ditulis Wahyu Setiawan pada 10 Januari 2020 lengkap dengan tanda tangan dan ‎materi.

“Dengan penuh kesadaran diri tanpa ada paksaan dari manapun dan oleh siapapun, dengan surat ini saya menyatakan mengundurkan diri sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia masa jabatan 2017-2022. Surat ini berlaku sejak tanggal saya mendatanganinya. Demikian surat pengunduran diri ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya,” bunyi surat Wahyu Setiawan.

Sekadar informasi, KPK menetapkan Komisioner KPU Wahyu Setiawan ebagai tersangka suap pengurusan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR.

Meski kalah jumlah suara di Pemilu 2019, Caleg PDIP Harun Masiku (HAR) ingin dilantik dengan cara menyuap Wahyu. Untuk muluskan niat jahat itu, Wahyu diduga meminta Rp 900 juta.

BACA JUGA  Dirut Garuda Jelaskan Penurunan Harga Tiket

Kasus ini bermula ketika almarhum Nazarudin Kiemas di Dapil Sumsel I menang sebagai anggota DPR. Karena sudah meninggal, suara kedua terbanyak yakni Riezky Aprilia yang dilantik jadi anggota legislatif oleh KPU. Di sini Harun Masiku menyuap Wahyu Setiawan.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan empat orang tersangka yaitu Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan dan juga mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu, Harun Masiku sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP, dan Saeful sebagai swasta. Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai tersangka penerima suap, sedangkan Harun dan Saeful sebagai tersangka pemberi suap.

Pemberian suap untuk Wahyu itu diduga untuk membantu Harun dalam Pergantian Antar Waktu (PAW) caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP yang meninggal dunia yaitu Nazarudin Kiemas pada Maret 2019. Namun dalam pleno KPU pengganti Nazarudin adalah caleg lainnya atas nama Riezky Aprilia.

Wahyu Setiawan diduga menerima duit Rp 600 juta terkait upaya memuluskan permintaan Harun Masiku untuk menjadi anggota DPR PAW. Duit suap ini diminta Wahyu Setiawan dikelola Agustiani Tio Fridelina.(jpn)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

KPK Geledah Tiga Lokasi di Sidoarjo

Read Next

Bau Nyale Dipusatkan di Pantai Aan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular