Penjualan Mutiara Turun 75 Persen

Fauzi. ( razak/radar mandalika )

MATARAM – Ketua Asosiasi Pedagang dan Pengrajin Mutiara Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Fauzi menyebutkan, secara umum pendapatan atau tingkat penjualan mutiara di daerah Pulau Lombok mengalami penurunan yang cukup drastis. Ini terjadi semenjak gempa bumi mengguncang Lombok dan Sumbawa beberapa bulan lalu. 

Kondisi demikian dialami oleh pelaku usaha kerajinan mutiara dari hulu sampai hilir. Yaitu, mulai dari distributor, pedagang eceran hingga pengrajin mutiara itu sendiri. Jadi, semua merasakan dampak dari gempa bumi yang menyebabkan pendapatan berkurang.

“Rata-rata kalau bisa dibilang yang sebelumnya waktu masih normal itu, penurunan yang sekarang bisa sampai 75 persen untuk penjualan,”

ujarnya, kepada Radar Mandalika, di Mataram, Sabtu (16/2).

Menurut Fauzi, penurunan penjualan mutiara tersebut, tidak terlepas juga karena mahalnya harga tiket pesawat domestik untuk tujuan Lombok. Akibatnya, banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berkunjung. Sehingga dunia pariwisata NTB sampai saat ini belum kembali normal meskipun pemerintah daerah telah getol mempromosikan NTB Bangkit.

BACA JUGA  Kementan Cabut1.647 Izin Merek Pestisida

Hal itu terlihat dari adanya penurunan tingkat penumpang pesawat di Bandara Internasional Lombok (BIL) yang mencapai 23 persen pada Bulan Januari 2019. Kemudian terjadi 40 pembatalan penerbangan setiap hari dari total 100 pergerakan pesawat per hari di BIL.

“Cuma yang sekarang ini hampir rata-rata kita tanya teman-teman, tidak terlepas dari faktor pariwisata dan otomatis kenaikan tiket itu kan berdampak dengan kunjungan yang ke daerah,” ungkap Fauzi.

Padahal katanya, tingkat kunjungan wisatawan yang semakin meningkat ke Lombok biasanya linier dengan banyaknya jumlah penjualan mutiara. Karena kualitas mutiara Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah lama terkenal di berbagai daerah Indonesia dan bahkan mancanegara.

“Mutiara khususnya mutiara dari Lombok sudah dikenal di dunia. Sekarang ini hampir di seluruh dunia, mutiara terbaik itu, ya mutiara di perairan Indonesia. Salah satunya di Lombok,” terangnya.

BACA JUGA  Penurunan Angka Kemiskinan Jadi Prioritas 2020

Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa terdapat dua jenis mutiara, yaitu berasal dari air tawar dan laut. Mengenai kualitas, mutiara air laut seperti mutiara Lombok jauh lebih unggul dibandingkan mutiara air tawar. Dapat dibuktikan dari tingkat ketebalan lapisan dan kilaunya.

Karena proses budidaya mutiara laut membutuhkan waktu agak lama, dengan biaya produksi yang tinggi maka harga jualnya pun otomatis lebih mahal hingga sepuluh kali lipat diatas harga mutiara air tawar. 

Untuk mutiara air tawar yang dijual di Lombok, biasanya diimpor dari negara China. Hanya sebagai alternatif bagi konsumen yang ingin mencari mutiara asli tapi dengan harga murah. 

Atas dasar itulah, pria yang juga pemilik Toko Emas & Mutiara Lombok di Sekarbela, Mataram, kembali menegaskan, untuk meningkatkan penjualan mutiara, Pemerintah Provinsi (Pemprov NTB) dapat segera mencari solusi agar pariwisata benar-benar bangkit lagi. Tidak hanya sebatas slogan-slogan tanpa hasil yang maksimal.

“Yang penting itu aja digenjot, bagaimana tamu biar datang. Pariwisata dan perbanyak kegiatan nasional di daerah. Event-event nasional,” harapnya. (cr-zak/r04)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Bentuk Perhiasan Mutiara Lombok Paling Banyak Dicari

Read Next

Dr.Zaki Nahkodai DMI Lombok Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular