Perjuangan Amaq Ruslan Menghadapi Penyakit Testis

Sempat Kempes Tapi Bengkak Lagi, 100 Dukung Tak Ada Hasil

Amaq Ruslan warga Dusun Tanak Awu, Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur sejak lama sudah pasrah dengan penyakit yang ia derita. Dimana, sudah 12 tahun pria ini menderita penyakit yang mengerikan. Akibatnya, selama itu dia tak bisa beraktivitas. Ia hanya berada di tempat tidur. Sementara ini, pihak medis memvonis penyakit yang dideritanya borok atau dalam dunia medis penyakit testis. Berikut catatan Radar Mandalika.

TARNADI-LOTENG

PASRAH: Amaq Ruslan, warga Dusun Tanak Awu Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur penderita penyakit testis. ( TARNADI/RADAR MANDALIKA )

INAQ Srilan, selalu setia merawat sang suami Amaq Ruslan. Sekarang Amaq Ruslan telah berusia 48 tahun, dia lahir tahun 1971 silam. Selama ini, kurang lebih 12 tahun lamanya, dia tak bisa apa-apa. Hanya berada di tempat tidur. Di rumah yang sederhana, Amaq Ruslan tinggal bersama menantu dan cucunya. Sementara anak semata wayangnya saat ini, sedang merantau ke Malaysia.

Penyakit yang diderita Amaq Ruslan ini, sudah dirasakan selama 12 tahun lamanya. Tepat dua tahun setelah dia pulang dari Negeri Jiran Malaysia. Maklum, dulunya Amaq Ruslan kerap keluar masuk ke Malaysia. Selama itu pula, ayah satu anak ini harus pasrah dengan kondisi yang dia alami saat ini. Karena kondisinya ini pula, dia sendiri tak bisa mencari nafkah seperti layaknya seorang suami pada umumnya.

Yang cukup memprihatinkan, dia hanya tidur di sebuah kamar kecil dari struktur rumah bedek (bertembokkan pagar bambu, Red) ia menghabiskan hari-harinya. Selama mengidap penyakit ini, berbagai usaha sudah dilakukan oleh keluarganya demi mencari keberuntungan untuk kesembuhannya. Hanya saja, semua yang dilakukan ternyata hanya sia- sia. Pasalnya penyakit yang dia derita semakin parah dan membengkak.

BACA JUGA  Dari Tradisi Bergabungnya Anggota Satpol PP Lotim

Mulai mencoba mengobati melalui dukun pun sudah tak terhitung dan mungkin lebih dari 100 orang pintar telah didatanginya. Namun upaya itu pun masih tak ada perubahan. “Awal mula penyakit yang diderita bapak itu, berasal dari benjolan kecil yang ada di dekat kemaluan. Tapi lama-lama membesar,” cerita sang isteri, Inaq Srilan kepada Radar Mandalika di kediamannya, kemarin.

Saat itu, akhir 2007 silam sang isteri pernah membawanya ke RSI Yatofa Bodak. Hal itu dilakukan karena buah zakar Amaq Ruslan semakin membesar. Hanya saja, pengobatan yang dia lakukan hingga meninginap beberapa malam itu ternyata gagal. Jarak selang beberapa hari, tak membuahkan hasil dalam pengobatannya itu, dia pun dibawa ke RSUP Mataram. Akan tetapi ternyata dari keterangan dokter dia diminta untuk dirujuk ke Bali. Dengan terpaksa, keluarga pun membawanya pulang.

Pilihan itu, lanjut dia dilakukan karena saat itu pihak keluarga yang hanya bekerja sebagai buruh tani tidak memiliki uang untuk berobat. Sementara uluran tangan dari pemerintah belum pernah dia dapatkan. Tak sampai disitu, pihak keluarga pun membawanya ke dokter spesialis di Mataram. Saat itu, setelah buah zakarnya disuntik sempat kempes. Namun itu tak berlangsung lama dan hanya beberapa hari. “Pernah kita sampai menghabiskan 2 juta lebih untuk berobat tapi hasilnya tak lama. Lagi membengkak,” katanya.

Kendati demikain, beberapa kali pihak keluarga telah bergonta ganti dokter spesialis. Namun penyakit suaminya tak bisa sembuh total. Padahal, uang yang dikeluarkan tak sedikit. Kadang, karena belas kasihan keluarga lainnya sampai tetangga-tetangganya pun ikut membawanya berobat. Namun sejak beberapa tahun lalu, keluarga hanya berserah diri kepada yang kuasa. Tak sering menjalankan pengobatan medis seperti dulu kepada sang suaminya tercinta. Sehingga dengan terpaksa hanya rutin memberikan obat secara tradisional. Kalaupun dia ingin mengobatinya ke RSUD, iapun harus menunggu uang terkumpul dari pekerjaanya sebagai seorang buruh tani itu.

BACA JUGA  Melihat Upaya SMPN 6 Jonggat, Sekolah Minim Murid

“Kita kumpul uang baru ada untuk berobat lagi,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, keluarga ini sampai kini belum memiliki BPJS kesehatan seperti masyarakat pada umumnya. Padahal, dia tergolong orang miskin di dusunnya. Kini, Amaq Ruslan juga hanya bisa pasrah terhadap penyakit yang dia rasakan meski rasa sakit ini ia rasakan selama 12 tahun itu hanya membani dirinya karena untuk berjalan saja harus dibantu oleh orang lain.

 “Saya sudah pasrah mas. Sudah banyak tempat kita berobat tapi masih saja seperti ini,” ujarnya dengan nada sedih.

Sekarang, pihak keluarga berharap akan adanya bantuan dari pemerintah untuk jaminan kesembuhan untuk Amaq Ruslan. Karena saat ini, keluarga sederhana ini masih membutuhkan dana yang banyak untuk melakukan operasi. Yang mana, menurut keterangan dokter akan menghabiskan puluhan juta rupiah, termasuk biaya penginapan selama di Bali.

Terhadap apa yang dideritanya ini, Pemdes setempat pun baru beberapa hari lalu terlihat kepeduliannya. Itu terlihat setelah tim dari Endri Foundation mengunjungi Amaq Ruslan di kediamannya. “Kami sedang mengurus BPJS-nya dek. Insya Allah sebenatar lagi jadi,” kata Kades Semoyang, Zulkarnaen kepada Radar Mandalika, kemarin. (*)

Spread the love
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Uang untuk Pembangunan Masjid ‘Dirampok’

Read Next

Korupsi Uang Desa, Kades Sukamulya Tidur di Bui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular