Program Pipanisasi Tanak Rarang Bantu Pertanian

Sedot Anggaran Hingga Rp 863 Juta

PRABAR– Salah satu program skala prioritas Pemerintah Desa (Pemdes) Tanak Rarang, Kecamatan Praya Barat (Prabar) tahun lalu yakni program penyediaan sarana perpipaan pertanian (pipanisasasi). Program yang menyedot sebagian besar Dana Desa (DD) di desa tersebut kini telah tuntas dikerjakan. Sehingga kini fasilitas pendukung produktifitas para petani tersebut telah dimanfaatkan oleh para petani.

“Program pipanisasi ini program skala prioritas kita di Tanak Rarang,” ungkap Kades Tanak Rarang, Haji Najmul Hadi kepada Radar Mandalika di kantornya, kemarin.

Dikatakan, program perpipaan irigasi ini dihajatkan untuk mengaliri air irigasi dengan ukuran pipa 10 In. Jaringan ini dipasang sepanjang 2.300 meter. Dimana, air yang dialiri mulai dari hulu, di saluran irigasi induk Bendungan Batujai yang ada di Dusun Temopoh Desa Setanggor menuju hilirnya di Dusun Tanak Rarang Barat Desa Tanak Rarang. Tepatnya di bawah Gunung Kelambi. Selain itu, melalui program inti desa tahun lalu tersebut, Pemdes pun menggelontorkan dana cukup besar. Kenapa tidak, dari Dana Desa (DD) yang dikelola desa tersebut tahun lalu sebanyak Rp 1,1 miliar lebih itu, untuk program tersebut menyedot anggaran sebayak Rp 863 juta lebih.

BACA JUGA  Pringgarata Gandeng Poltekes Mataram

“Ini semua kita programkan karena dari selisih ketinggian dari hulu hingga hilir jaringan perpipaan tersebut sekitar 2,5 meter,” jelas Kades dua periode ini.

Najmul juga menambahkan bahwa, program ini sudah lama dinantikan para petani di desanya. Tak hanya petani tapi juga oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Bahkan bisa dikatakan sudah puluhan tahun dinantikan. Untuk mewujudkan itu semua, Pemdes bersama masyarakat telah sering mengusulkan ke pemerintah kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat. Hanya saja, tak kunjung pernah terealisasi. Bersyukur beberapa tahun terakhir ini ada DD. Memang katanya, pernah ada bantuan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I berupa pembuatan bak penampung di bawah Gunung Kelambi itu. Namun demikian, itu tak berfungsi jika tidak didukung dengan suplay air irigasi seperti sekarang ini. Sebab, seluas 250 hektare lebih dari 300 hektare lahan pertanian yang ada di desanya kesulitan mengakses air irigasi. Bahkan bisa dibilang yang 250 hektare tersebut merupakan lahan pertanian tadah hujan. Sehingga pada musim tanam setiap tahun, para petani hanya mampu menanam dua kali yakni tanaman padi dan palawija. Itupun sering terjadi gagal panen karena air irigasi tak mampu dialiri sampai di sana. Sedangkan setelah adanya jaringan perpipaan ini ia yakin bisa sampai tiga kali, dua kali padi dan sekali palawija.

BACA JUGA  Kades Kabul Pertimbangkan Opsi Banding

“Kita di sini mayoritas petani dan peternak dek. Makanya sarana dan prasarana pertanian coba kita jadikan prioritas tahun lalu,” terang Haji Deboh sapaan akrab Kades ini.

Oleh karena itu, sekarang ini ia optimis para petani bisa produktif. Selain itu, para petugas pengairan seperti P3A bisa lebih mudah mendistribusikan air ke sawah petani. Terlebih lagi, tahun lalu desa dibantu oleh BWS untuk perbaikan saluran irigasi tersier sepanjang 240 meter.

“Untuk pengelola dan penanggung jawab jaringan ini, kita akan bentuk kelompok yang beranggotakan para P3A nanti. Biar koordinasi dan komunikasi petani bisa optimal,” pungkasnya. (tar)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

KSPN NTB Ancam Polisikan Dispar

Read Next

Kampung KB Bertambah Tahun Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular