Program Zero Waste Butuh Regulasi

IST/RADAR MANDALIKA PRESENTASI: Ketua Komunitas Lombok Plastik Free, M Tantowi saat menyampaikan paparan soal krisis sampah yang menghantui Lombok khusunya di obyek pariwisata di Pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah, belum lama ini.

MATARAM – Program Zero Waste (bebas sampah) yang digagas Pemprov NTB saat ini, dilihat tidak cukup untuk membendung keberadaan sampah. Konsep tersebut harus didukung dengan adanya sebuah langkah yang lebih strategis di bidang regulasi/kebijakan pemerintah.

Regulasi bertujuan membatasi penggunaan plastic sekali pakai, terutama untuk berbagai produk plastik seperti tas plastik, sedotan plastik, gelas plastik sekali pakai dan lainnya. Dengan kebijakan ini, maka angka konsumsi terhadap plastic akan dapat ditekan lebih rendah sehingga laju pencemaran lingkungan hidup lebih terkendali. Kebijakan ini juga akan dapat mendongkrak industri kreatif skala kecil/menengah dimana potensi pasar untuk produk sedotan bambu, gelas kayu, sendok bambu dan lain lain yang berbahan dasar lebih ramah lingkungan dapat terserap dengan baik, terutama untuk kebutuhan industri wisata.

“Program Zero Waste itu langkah cukup baik tapi harus didukung dengan regulasi yang mengatur banyak hal,” tegas Ketua Komunitas Lombok Plastik Free, M Tantowi dikonfirmasi di Mataram, Rabu kemarin.

BACA JUGA  Menemeng Bangkitkan Kembali Kampung Selfie

Tantowi mengatakan, Pulau Lombok merupakan aset strategis wisata dunia namun masih terkendala dengan masalah sampah. Dari data yang didapatkan, Lombok menghasilkan sampah sebanyak 3.500 ton perhari dengan rata-rata 0,7 ton per orang. Dari data tersebut hanya 18 persen yang masuk untuk pengolahan, sebagian besar akan berakhir di aliran sungai, lahan penduduk, dan laut, atau dibakar secara sporadic oleh penduduk. Bahkan tempat-tempat wisata yang dibanggakan sudah terlihat kotor dengan banyak sekali sampah plastic yang bertebaran dimana-mana. Anton Cine sapaan akrabnya mengatakan krisis persoalan sampah, khususnya sampah plastic merupakan krisis dunia saat ini. 

Setiap tahunnya, 311 juta ton plastic diproduksi secara global dan mengalami peningkatan sekitar 8 persen pertahunnya. Setengahnya adalah merupakan produk plastic sekali pakai yang langsung dibuang. Untuk tas plastic sekali pakai saja, pemakaiannya diperkirakan mencapai 1 triliun setiap tahun yang berarti lebih dari 1 juta pemakaian permenitnya. Satu perempat ton tas plastic telah masuk dan mencemari lautan perdetiknya. Dan saat ini, Indonesia telah menjadi juara dunia kedua setelah Cina dalam menghasilkan sampah.

BACA JUGA  Kunjungan Wisatawan Terancam Mahalnya Tiket

“Sebuah prestasi yang tidak patut kita banggakan. Menurut penelitian dari University of Georgia, sekitar 3,22 juta ton sampah plastic ini dibuang ke perairan Indonesia setiap tahunnya,” ulasnya.

 “Untuk Zero Waste sendiri kalau tidak didorong dengan regulasi jangan mimpi berhasil,” sambung Anton.

Beberapa hari yang lalu, Komunitas Lombok Plastik Free membuat beberapa kegiatan penandatangan petisi bebas sampah yang dirangkaikan dengan cleaning beach, Padlle out dan lainnya bersama sejumlah wisatawan asing. Gerakan itu bertujuan mendesak pemerintah agar segera membuat peraturan daerah untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai, terutama di Supermarket, Mall, Indomart dan mini Market lainnya.

Untuk melihat keseriusan pemerintah dalam program Zero Waste, dilihatnya harus sejalan dengan satu regulasi yang dibuat.

Sementara itu Gubernur NTB, Zulkieflimansyah juga melihat regulasi itu satu hal yang diperlukan dalam mengimplementasikan satu program. Terlebih regulasi yang mengatur soal zero waste. Bang Zul menyambut baik masukan dari Komunitas Lombok Plastik Free tersebut.

“Harus dong ada regulasi. Itu masukan yang baik,” jawab gubernur saat dikonfirmasi terpisah. (jho/r1)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Bangkai Helikopter Dievakuasi

Read Next

Ketika Awan Terlihat Memayungi Gunung Rinjani jadi Trending Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular