Semarak Pawai Dulang Sesaji Lebaran Topat

LEBARAN TOPAT: Seremoni pawai dulang sesaji peroahan yang berlangsung dalam acara lebaran topat di Pantai Sire, kemarin. Umat non muslim juga ikut berpartisipasi. ( IST/RADAR MANDALIKA )

KLU–Lebaran adat atau lebaran topat terasa meriah. Pemerintah Lombok Utara memusatkan perayaan Lebaran topat di Pantai Sira, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung.

Momentum lebaran topat dilakukan setelah sepekan perayaan idul Fitri. Hal ini sebagai bentuk wujud syukur umat muslim atas telah dilaksanakan ibadah puasa Ramadan dan dilanjutkan dengan puasa sunnah Syawal selama sepekan.

Dalam perayaan lebaran topat kemarin, tidak hanya dihadiri oleh kalangan umat muslim saja. Umat beragama lain yaitu Budha dan Hindu juga hadir dalam seremoni adat membawa dulang sesaji di Pantai Sire.
“Ini luar biasa sikap Wathaniyah persaudaraan sangat terasa d imomentum lebaran topat ini,” kata Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar.

Menurutnya, momentum tersebut tidak hanya dirayakan oleh warga yang beragama muslim dan notabene telah menyeleseikan ibadah bulan suci Ramadan. Tetapi kali ini dijadikan momen untuk kumpul bersama baik dari umat Hindu maupun Budha. Lebaran topat disebutnya sebagai simbolis yang merupakan representasi kegiatan adat dengan bersendikan agama. Maka tak heran jika umat lain selain Islam ikut pula merasakan.

“Lebaran ketupat dijadikan event untuk kumpul bersama keluarga dan kerabat,” ungkap Najmul.

“Wujud toleransi di Lombok Utara sangat kuat. Kementerian agama menetapkan Lombok Utara sebagai kabupaten peduli kerukunan umat beragama,” imbuhnya.

Kegiaaan yang sudah berlangsung sejak pukul 09.00 Wita hingga berakhir pada pukul 17.00 Wita ini, menyuguhkan sejumlah hiburan bagi masyarakat. Namun yang ditunggu-tunggu yakni pada lomba dulang pesaji. Masing-masing kecamatan di Lombok Utara menyajikan dulang pesaji mereka untuk kemudian dilombakan dan didapati pemenangnya.

Tidak hanya itu, sejumlah atraksi budaya seperti tari rudat dan lain sebagainya mampu menambah semaraknya acara yang dihelat tepat di pinggir pantai tersebut. Disbudpar yang menjadi leading sektor kegiatan turut mendatangkan ustad untuk memberikan ceramahnya dalam rangka mengingat dan memaknai peristiwa bencana gempa 7.0 SR yang mengguncang beberapa waktu lalu.

“Saya melihat ini semangat untuk bangkit, bahwa apa yang pernah terjadi (bencana gempa bumi) kita coba melupakan sejenak. Kita ingin lebih memandang ke depan. Bahwa masa depan Lombok Utara ini berada di depan kita, bukan dibelakang kita,” kata Najmul.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Lombok Utara, Vidi Eka Kusuma menjelaskan, lebaran topat adalah salah satu cara untuk mempertahankan bentuk peninggalan budaya serta adat yang masih kental dan terus dilestarikan. Komitmen Disbudpar Lombok Utara guna mendukung sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan. Sebab yang menjadi harapan daripada kegiatan yakni masyarakat pun wisatawan yang hadir dapat mengetahui sejumlah potensi destinasi di Lombok Utara.

“Kita harapkan ada dampaknya pada pariwisata kita. Karena selain menggelar acara lebaran topat kami juga mempromosikan adat budaya dan pariwisata kita,” jelasnya.

Meski lebaran topat di Lombok Utara dipusatkan di Pantai Sira namun pihaknya tidak menampik jika disejumlah titik masyarakat tengah menggelar atau merayakan kegiatan serupa. Jumlahnya menyebar hingga seluruh kecamatan. Pantai Nipah, Malimbu, hingga perayaan perang lebaran ketupat yang rutin dilaksanakan warga di Dusun Karang Langu setiap tahunnya.

“Memang pusatnya di sini tapi kita bebaskan masyarakat mau merayakan di mana. Kami pun sudah berkoordinasi dengan Polres kaitan dengan pengamanan,” bebernya.(Dhe/r3)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
BACA JUGA  Bupati Lepas Pegawai Kementerian PUPR

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Puluhan Paket Proyek Segera Dikerjakan

Read Next

Dukcapil Dilatih Penyusunan SOP UPT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular