Tukang Arloji di Kota Tua Ampenan Butuh Gerobak Baru

Tonok dan gerobak tuanya, tampak melihat arloji yang diperbaikinya. ( razak/radar mandalika )

MATARAM – Tukang sekaligus pedagang arloji di kawasan Kota Tua Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) membutuhkan gerobak baru yang layak untuk menaruh barang arloji.

Pasalnya, gerobak yang mereka punya selama ini sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Mereka masih menggunakan gerobak yang terbuat dari kayu yang tampak terlihat hampir sudah ada yang rusak.

Para tukang arloji yang berada di pinggir bangunan tua Ampenan itu, sudah berpuluh-puluh tahun melayani masyarakat yang membutuhkan jasa mereka yaitu memperbaiki berbagai merek dan jenis arlogi yang sudah rusak.

Ditemui media ini, Tonok, seorang tukang arloji menuturkan, dirinya sangat membutuhkan gerobak baru untuk menunjang mata pencahariannya sehari-hari. Karena gerobak yang dia miliki saat ini, sudah berumur puluhan tahun dan sebagian sudah rusak.

BACA JUGA  Radar Mandalika Gandeng Baznas Loteng

Dia menunjukkan bagian gerobaknya yang rusak tersebut. Tampak terlihat bagian kaki gerobak yang telah diganjal menggunakan batu/bata. Sedangkan laci dan rombong gerobak, terlihat sudah tergores sehingga lama kelamaan akan cepat habis dan lapuk.

“Udah beganjel di bawah. Beganjel batu di bawah. Sudah patah di bawah,” ungkapnya menunjukkan bagian gerobaknya yang rusak, kepada Radar Mandalika, di Mataram, Jum’at (22/2).

Pria yang sudah 30 tahun sebagai tukang arloji di Ampenan ini mengatakan, dirinya dan tukang arloji lainnya sudah lama dijanjikan akan diberikan gerobak baru oleh pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. 

Sehingga dia meminta untuk segera direalisasikan seperti para pekerja sol sepatu yang telah diberikan gerobak baru pada bulan sebelumnya. Dia menyebutkan karena gerobak besi yang diberikan oleh pemerintah lebih bagus daripada kayu.

BACA JUGA  Cukai Naik 23 Persen, Rokok Ilegal Bakal Merajalela

“Lebih baik diganti aja. Yang gini-gini ini (tukang arloji) yang cocok. Supaya dia (gerobak) bersih,” ujarnya.

Pendapatan yang didapat per hari tidak menentu. Tapi paling banyak Rp 100 ribu per hari dan paling sedikit Rp 35 ribu. Namun pekerjaan ini, katanya, memiliki resiko kerena bisa membuat mata jadi rabun.

“Paling-paling bersihnya Rp 35 ribu, Rp 50 ribu. Paling banyak kadang-kadang Rp 100 ribu. Itu gak tentu, kadang-kadang sehari gak ada,” sebutnya.

Sebelumnya dia menuturkan bahwa pekerjaan sebagai tukang arloji dilakoninya semenjak sebelum dibangun pasar tradisional ACC yang berada kawasan Kota Tua Ampenan.

Bahkan pada waktu itu, para tukang arlogi cukup banyak bisa mencapai belasan orang. Namun sekarang, jumlah tukang arlogi di Kota Tua Ampenan semakin berkurang dengan berbagai alasan. Paling sedikit hanya 8 orang yang masih bertahan. (cr-zak/r04)

Spread the love
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

Redaksi RadarMandalika

Read Previous

Januari 2019, Penjualan Nissan Datsun Tunjukkan Tren Positif

Read Next

Seni dan Olahraga, Ikon SMAN 2 Praya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular